Minggu, 24 November 2013

Gaptek...?

Posted by Anisa Fitrah at 01.49 4 comments
Rian.  Cowok pintar dan keren dari kelas XI IPA 1 itu lah yang selalu mengganggu pikiran ku. Aku dan Rian sekelas pas kelas X, tapi  sekarang tidak lagi. Rian masuk ke kelas inti, sedangkan aku tidak. Entah mengapa sampai sekarang, Rian tak pernah terlihat atau ketahuan memiliki pacar. Padahal menurutku, modal Rian untuk menarik perhatian para cewek sudah sangatlah besar. Tapi itu tidak dimanfaatkan oleh Rian. Rian lebih sering terlihat sendiri. Kalau tidak ia mungkin terlihat bersama Dayu. Dayu itu adalah satu-satunya cewek yang dekat dengan Rian. Tapi mereka tidak pacaran. Ya, mereka hanya bersahabat. Aku pernah menanyakan hal itu kepada Dayu. Dan hanya dijawab “Nggak mungkin lah Ra, aku sama Rian Cuma temenan kok”. Itu cukup membuatku puas. Setidaknya, kalau aku mendekati Rian, aku tidak mengganggu hubungan siapa-siapa.
Semester baru, baru berjalan sebulan. Berarti baru sebulan juga aku terpisah kelas dengan Rian.  Aku sempat menyesal kenapa nggak bisa masuk kelas inti. Bukan hanya karena Rian sih, tapi, siapa coba yang nggak mau masuk IPA 1? Keren banget nggak sih gabung sama anak-anak pintar, yang kutu buku tapi gak kalah gaul juga itu? Yaah, aku harus cukup puas dengan hanya masuk IPA 2. Di sekolahku, hanya ada 4 kelas IPA. IPA 1 kelas inti, dan IPA 2 adalah kelas inti ke 2. Dan sisanya? Bisa ditebak lah.Tapi aku beruntung. Aku berhasil terpilih menjadi ketua ekskul pecinta alam. Aku memenangkan 65 persen suara saat votting minggu kemarin. Jadi seenggaknya aku cukup punya nama di sekolah. Dan itu nggak bikin aku minder-minder banget kalau mau ngedeketin Rian.
Hari ini pelajaran full sampai siang alias nggak ada jam yang kosong. Ditambah lagi pulang sekolah harus  ada rapat pengurus ekskul pecinta alam buat bahas progam kerja pengurus baru. Capek banget rasanya. Sesampai rumah aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, sambil membaca-baca buku agenda yang berisi hasil rapat tadi. Besok kami para pengurus harus membagi-bagikan formulir pada calon anggota baru di kelas X, tidak menutup kemungkinan juga bagi kelas XI yang ingin ikut bergabung karena belum sempat bergabung pas kelas X. Dan kalian pasti tahu niatku kan? Ya, aku mau mengajak Rian ikut bergabung juga di ekskulku. Kira-kira Rian mau nggak ya? Mau. Pasti mau. Aku hanya bisa berpikir positif.
Keesokan harinya, aku bersama pengurus ekskul pecinta alam yang lain berkumpul  pada jam istirahat karena membagi-bagikan formulir. Aku sebagai ketua mengkoordinir mereka. Dengan kata lain akulah yang bertugas membagi kelompok dalam membagi-bagikan formulir. Dan tentu saja aku sendiri bertugas membagikan formulir di kelas XI, tepatnya XI IPA 1 sampai XI IPA 3. Aku sengaja biar bisa membagikannya langsung kepada Rian, sekedar untuk meyakinkannya agar ia mau masuk ke ekskulku sih. Entah memanfaatkan jabatanku untuk hal seperti ini dibenarkan atau tidak. Yang aku pikir, selama aku tidak merugikan pihak lain dalam hal ini komunitas ekskulku sih, aku pikir tidak mengapa.
***
Aku bersama Fanny, sahabatku yang juga anggota ekskul pecinta alam, sudah tiba di depan XI IPA 1. Kelas ini, entah mengapa karena isinya anak pintar semua, jadi saat jam istirahatpun mereka hampir semua duduk diam dikelas. Ada yang membaca buku, ada yang mengutak-atik laptopnya, bahkan ada yang sekedar bercerita dengan anak lain. Rian termasuk tipe yang terakhir. Ia tampak sedang bercanda dengan salah seorang temannya yang bernama Eza. Aku dan Fanny kemudian masuk dan memberikan pengumuman di depan kelas.  Setelah memberi penjelasan singkat, aku dan Fanny berkeliling kelas membagikan formulir. Tiba di depan meja Rian, aku tersenyum sebisaku.
 “Rian, gabung ya, kegiatan kita seru loh”, kataku padanya dengan hati-hati.
“Liat nanti ya Ra, aku pikir-pikir dulu”, jawabnya.
Aku hanya menaikkan alisku kemudian lanjut berkeliling. Setelah selesai, aku dan Fanny langsung keluar dari kelas itu. Aku harap, Rian bisa membaca kodeku, karena cuma dia yang aku beri  bujukan ekstra tadi. Ya, itupun kalau dia peka. Kita tunggu saja sampai tiga hari kedepan. Karena batas pengembalian formulir adalah tiga hari lagi.
***
Jam istirahat usai. Kami para pengurus ekskul pecinta alam telah selesai melaksanakan tugas kami yaitu membagikan formuilir. Semoga saja banyak yang berminat ikut ekskul yang aku ketuai ini. Semoga. Aku dan Fanny kemudian kembali ke kelas. Di kelas aku bertemu Dayu. Dayu nampak sedang mengisi formulir yang aku bagikan tadi.
“Yu, kamu mau daftar ya?”, sapaku
“Hehe iya nih Ra, diterima ya nanti”.
“Loh, kemarin emang kamu ekskulnya apa?”.
“Aku ikut lukis, tapi kurang menantang, hehe”.
“Oke sip deh, kalo udah, langsung kasih aku ya Yu”.
“Iya Ra”.
“Eh iya, Rian ekskulnya apa sih kemarin?”.
“Hmm, kemarin sih dia ikut basket. Tapi jarang datang gitulah, dia sibuk Ra. Kenapa?”.
“Nggak papa sih, nanya doang, aku ngajakin dia ikut PA juga, kira-kira dia mau nggak ya?”.
“Waduh nggak tahu juga sih, dia itu orangnya males ikut ekskul sebenarnya, tapi nggak tahu deh kelas XI ini dia mau apa nggak”.
“Hehe, yaudah Yu, makasih deh”.
“Iya Ra, sama-sama”.
Pembicaraanku dengan Dayu berakhir, bertepatan dengan guru mapel Bahasa Inggris yang  sudah datang. Aku kembali ke mejaku dan mengeluarkan LKS Bahasa Inggrisku, kemudian mengikuti pelajaran seperti biasa.
***
Aku sampai dirumah pukul setengah tiga, karena perjalanan dari sekolah ke rumah yang lumayan jauh. Ya seperti biasa, setelah itu aku makan dan tidur siang.  Sebelum tidur, aku menyempatkan membuka akun media sosialku di internet. Akun favorit tetap saja facebook dan twitter. Hanya ada beberapa pemberitahuan di facebook dan mention di twitter. Nah, sudah sekian lama aku mengenal Rian, aku masih belum juga pernah menemukan akun sosmednya, baik itu facebook ataupun twitter. Bisa dibilang facebook  dan twitter merupakan salah satu jalan ku untuk mengintip kesehariannya. Seperti sedang apa dia, apa yang dia rasakan dan lain-lain. Bahasa kerennya adalah aku bisa stalking. Tapi? Masa iya Rian nggak punya facebook atau twitter sih? Sebegitunya ya? Hmm. Aku mencoba mengetikkan nama panjangnya di kolom pencarian facebook. “Derian Saputra” lalu ku klik tanda kaca pembesar. Tapi hasilnya tetap nihil. Malah yang muncul adalah akun-akun facebook yang namanya hampir mirip dengan Rian. Hal yang sama juga aku lakukan di twitter. Tapi hasilnya sama-saja. Tidak menghasilkan sesuatu yang dapat membuatku senang. Huh.
Aku kemudian menutup mataku mencoba tidur . Tidur siang adalah kegiatan rutinku setiap hari. Hal ini membantuku untuk tahan belajar hingga larut malam. Oke, time to sleep.
***
Hari pengumpulan formulir itupun tiba. Rasa khawatir mulai ada jikalau Rian tidak mau mendaftar. Jam istirahat aku stay dikelasku untuk menunggu siswa yang mau mengembalikan formulir. Kebanyakan memang murid kelas X yang mendaftar, tapi, tunggu. Itu Rian. Dia tampak membawa kertas, menuju kearahku. Bingo! Rian ikut mendaftar! Entah kenapa dia mau. Mungkin karena dibujuk Dayu, atau karena nilai eksulnya jelek tahun lalu. Tapi masa bodo. Yang penting dia mau mendaftar.
“Diandra, ini formulirku, harus seru loh ya, kalo nggak awas aja”.
“Haha iya deh. Ntar kamu boleh usul kok kegiatan macam apa yang kalian pengenin, kita pengurus bakal usahain”, jawabku.
“Okedeh makasih ya”.
“Yup, sama-sama”.
Setelah itu Rian ke tempat duduk Dayu, dan berbicara sesuatu. Entah apa yang mereka bicarakan. Dan pemandangan itu membuatku, cemburu. Memang mereka hanya teman. Tapi, siapa tahu dari teman jadi cinta?
***
Sepulang sekolah, aku bersama pengurus ekskul yang lain menyeleksi formulir yang masuk. Sebagian besar yang mendaftar kami terima. Hanya sedikit yang kami tolak karena kurang memenuhui kriteria yang kami telah tentukan. Rian? Tentu saja diterima. Aku tak sabar bertemu dengannya besok saat pertemuan ekskul. Bahkan aku tak sabar membayangkan satu ekskul dengannya nanti. Fanny yang sepertinya bisa membaca pikiranku hanya tertawa saja. Fanny memang sahabat yang baik, dia teman yang paling mengerti aku.
Keesokan harinya, aku kembali mengkoordinir seluruh anggota ekskul pecinta alam untuk berkumpul karena ada yang ingin aku sampaikan kepada mereka. Jadi sepulang sekolah kami kembali berkumpul di ruang rapat osis seperti biasa. Rian dan Dayu nampak jalan berdua ke ruang osis. Aku pura-pura tidak melihat mereka. Setelah semua anggota berkumpul, aku memberikan sambutan selamat datang kepada para anggota baru. Dan berpidato seadanya ala-ala ketua. Fanny tampak membagikan selebaran lagi yang berisi form. contact person. Yang harus di isi adalah no telepon, dan data beberapa akun sosmed. Cerdas!
Acara sambut-sambutan pun selesai. Kegiatan ekskul resminya akan dimulai nanti menunggu pemberitahuan lebih lanjut dari anggota osis. Aku dan Fanny sedang membereskan kursi yang dipakai pertemuan tadi. Kiki, wakil ketua ekskulku sedang mengumpulkan selebaran yang dibagikan Fanny tadi. Melihat itu, aku menghampiri Kiki. Dan ikut melihat form yang sudah diisi itu. Mataku mencari-cari nama Derian Saputra. Ketemu! Tapi, kok? Hanya no HP nya yang ia isi. Akun sosmednya kosong! Apakah ini berarti Rian memang nggak punya akun Sosmed? Masa sih dia gaptek? Aku masih tidak percaya.
***
Dirumah, aku memandang HP ku dengan gelisah. SMS Rian nggak ya? Masa iya cewek duluan sih? Masa bodo!
Diandra: Hei, Ini Rian?
Lama, SMS itu belum dibalas-balas oleh Rian, menambah kecemasanku saja. Yaudah, biarin aja dulu. Akupun melanjutkan aktifitas rutinku. Ya, tidur siang.
Sampai malam, sms itu belum dibalas oleh Rian. Hal itu tentu saja membuatku kesal. Aku kemudian meng-SMS Fanny. Ya, curhat gitu. Saran Fanny sih dibiarin aja. Jangan terlihat terlalu agresif. Oke, saran dilaksanakan.
Hampir pukul sepuluh malam, HP ku berbunyi. Rian. Rian membalas smsku!
Rian: Iya, syp ni?
Tanpa sabar, aku lalu membalas lagi dan malam itu kita jadi ber-SMSa-n ria
Diandra: Ini Diandra. Eh, form yang tadi siang kok akun sosmednya kamu kosongin?
Rian: Oh haha itu. Aku beneran gak punya Ra.
Diandra: Masa sih Yan?
Rian: Haha iya serius. Kenapa sih km penasaran bgt?
Diandra: Ya gpp sih, heran aja lah.
Rian: Heran knp?
Diandara: Gak deh lanjut. Gpp
Rian: Oke :)
Terpaksa aku mengakhiri pembicaraan kami sebelum aku ngomong yang macam-macam. Ya, daripada ketahuan duluan kalo aku kepo dan pengen stalkingin dia kan? Malam semakin larut, aku pun memutuskan untuk tidur saja.
***
“Yu, Rian beneran gak punya FB atau twitter ya Yu? Kamu pasti tahu deh”, kataku pagi itu membuka pembicaraan yang agak berbisik-bisik dengan Dayu
“Hmm, dia emang nggak punya sih Ra”.
“Kenapa? Dia gak bisa mainnya?”, tanyaku keceplosan.
“Haha nggak lah Ra, Rian itu bukan tipe orang yang suka main sosmed. Rian itu sibuk banget. Nggak sempat buat gitu-gituan Ra”.
“Sibuk gimana sih?”.
“Kamu ntar pulang sekolah kesini aja deh”, jawab Dayu sambil menuliskan sesuatu di selembar kertas.
“Apaan nih?”.
“Udah, kamu kesitu aja ntar siang kalo emang pengen banget tahu tentang Rian. Aku tahu kok. Kamu suka sama Rian kan? Rian juga udah tahu kok. Dia yang nyuruh aku ngasih ini ke kamu Ra”.
“Haa? Jadi? Rian tahu kalo aku suka sama dia?”.
“Iya Ra”.
“Yaudah, makasih ya Yu”.
“Sama-sama Ra”.
Aku lalu menuju tempat dudukku dan menceritakan semuanya pada Fanny. Fanny tampak kaget juga. Ternyata tingkat kepekaan Rian sebagai cowok sudah lebih dari cukup untuk mengetahui kalau aku suka sama dia. Duh!
Pulang sekolah, aku ditemani Fanny pergi ke alamat yang diberikan Dayu. Di kertas itu tertulis RM. DUTA MINANG, Jl. Pattimura no 34. Ini maksudnya rumah makan? Tanyaku pada Fanny. Fanny hanya menaikkan bahunya.
Alamat yang aku tuju ada didepan mataku sekarang. Benar adanya itu adalah sebuah rumah makan Padang yang cukup ramai. Aku dan Fanny hanya mengintip dari luar. Rian! Dia tampak memakai seragam yang sama dengan beberapa orang lain. Ditangannya berbaris rapi piring-piring yang penuh semuanya. Aku dan Fanny hanya saling bertatapan heran. Setelah selesai mengantarkan pesanan ke meja pelanggan, Rian yang sudah menyadari keberadaanku dan Fanny langsung menghampiri kami.
“Kalian mau makan?”, tanya Rian
“Hah? Nggak Yan. Kamu kerja disini?”, jawabku.
“Iya Ra. Aku partime disini, dari pulang sekolah samapai jam sembilan malam, kamu sebegitunya ya pengen tahu tentang aku? Inilah aku Ra. Aku mungkin nggak se-perfect yang kamu pikirin kan?”, tutur Rian panjang lebar
Aku masih diam.
“Aku tahu kamu pasti kaget ngelihat ini Ra, aku harap kamu nggak ilfeel ya, setelah tahu yang sebenarnya. Oh iya, aku tahu kok kamu suka sama aku. Tapi aku maunya kamu suka sama aku apa adanya. Ya beginilah aku Ra. Kamu masih suka sama aku? Aku bukan orang kaya seperti kalian. Handphone aja nggak bisa buat internet. Ya mana bisa aku facebookan sama twitteran iya kan?” sambung Rian lagi.
“Aku nggak ilfeel sama sekali kok. Aku malah semakin kagum sama kamu”.
Rian hanya tersenyum. Entah apa artinya.  Setelah tahu semua ini, rasa sukaku pada Rian bertambah lagi dan lagi. Rian tetap saja Rian yang sama dimataku. Dia tetap saja mengagumkan, mau pakai seragam SMA ataupun seragam pelayan, dia sama saja. Bahkan seratus kali lebih mengagumkan melihatnya sekarang.


 

✿Sakura No Shiori Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea